Jumat, 04 Mei 2018

Cinta Mati Harga Mati


Sampai sekarang, rasa cinta seseorang akan suatu hal belum memiliki tolak ukur. Begitu juga dengan rasa cinta seseorang terhadap negaranya. Apakah seseorang yang mentaati dan nilai-nilai adatnya akan memiliki rasa cinta kepada negaranya ?

Rasa cinta merupakan sebuah emosi yang kuat akan ketertarikan akan sesuatu. Biasanya seseorang rela melakukan apapun demi hal yang dicintainya. Bedasarkan opini tersebut dapat disimpulkan bahwa seseorang tidak akan merasa cinta terhadap hal apapun jika tidak ada niat dan dorongan dari hati dan perbuatan yang dilakukan untuk mencintai sesuatu. Oleh karena itu, pertanyaan di akhir paragraf satu bisa bersifat ambigu. Jika seseorang sangat taat dan patuh terhadap nilai-nilai budayanya, akan tetap orang tersebut tidak memiliki niat dan keinginan untuk mencintai negaranya, maka orang tersebut dapat digolongkan ke dalam kaum konservatif.

Rasa cinta dan dicintai merupakan salah satu hal yang subjektif dikarenakan tidak memiliki tolak ukur terhadap tekanan rasa cinta itu sendiri, setiap orang memiliki karakter yang berbeda, begitu juga dalam mengungkapkan rasa cintanya akan suatu hal, dan seharusnya kita tidak menanyakan tentang kecintaan seseorang terhadap negaranya yang diasaskan dengan perbuatan orang itu, yang harus kita tanyakan adalah apa aku sudah cinta bangsaku. Karena cinta datang dari hati dan berawal dari niat dan juga ketertarikan kita akan sesuatu.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa rasa cinta terhadap negara dipengaruhi oleh banyak hal, dan jika kita melakukan suatu perbuatan yang bersifat Nasionalis tanpa adanya kesadaran dan keinginan untuk mencintai Bangsa, “apakah itu bisa disebut mencintai bangsa ?”. Karena bisa saja negara kita merasa telah diberi harapan palsu dengan segala perbuatan Nasionalis yang kita lakukan, termasuk taat dan patuh kepada nilai-nilai adat yang ada di Indonesia.
 

Karya : Rasyid Andi Bachtiar
 

Rabu, 02 Mei 2018

Evaluasi Hari Pendidikan Nasional Dari Rakyat


Kita tidak bisa mengesampingkan peran Ki Hajar Dewantara yang telah membuat grand design pendidikan di Indonesia, oleh sebab itu sebagai bentuk apresiasi atas jasanya pada setiap tanggal 2 Mei diperingatilah Hari Pendidikan Nasional. Dalam bentuk ceremony Hari Pendidikan Nasional atau HARDIKNAS selama bertahun-tahun mampu membendung hasrat para pendidik Indonesia untuk melakukan evaluasi besar-besaran terhadap dunia pendidikan Indonesia, namun jika berbicara konteks implementasi maka tujuan yang didambakan tertinggal jauh dengan apa yang dirayakan oleh masyarakat. Banyak faktor yang mempengaruhi mandeknya pendidikan di Indonesia, kalau-pun harus disebutkan kompleksitasnya cukup mengkhawatirkan. Sederhananya, ragam aktor yang memainkan peran pendidikan tidak sesuai dengan posisinya dan berdampak pada ketimpangan dalam menjalakan implementasi di lapangan.


Sumber : 1CAK.COM
Dalam presepsi para pendidik, keseriusan memperjuangkan pendidikan yang lebih baik sudah terlihat dari munculnya guru muda yang inspiratif dan inovatif. Hanya saja, jika menilik realitas yang terjadi di setiap lembaga yang berbasis pendidikan maka tak jarang gerakan inovatif ini terbentur oleh aturan konvesional. Perlu diakui bahwasanya apa yang dicetus oleh Ki Hajar Deantara membutuhkan gerakan aktualisasi, terutama dari segi struktural. Dalam hal ini, bukan maksud penulis merasa memiliki kemampuan lebih dalam memenjerial pendidikan. Hanya saja sebagai masyarakat, gerakan inovatif baru dirasa hanya terpaku dalam tataran pengembangan teknologi benda bukan pemikiran. Sebagai salah satu contoh, kita dapat melihat keputusan Menteri Pendidikan mengenai Rencana Pelaksanaan Pembeajaran ( RPP ) yang harus sesuai dengan abad 21, dimana konsesntrasi yang diberlakukan tidak menyentuh bagaimana manusianya melakukan hal tersebut. Secara explisit hal ini menurut para sosiolog adalah keadaan dimana masyarakat mengalami Culture Lag atau ketimpangan budaya. Sehingga dalam pandangan W.F. Ogburn bahwa pertumbuhan kebudayaan tidak selalu sama cepatnya secara keseluruhan, ada bagian yang tumbuh dengan lambat. Analisanya yiatu, RPP abad 21 yang kita anggap sebagai budaya materil tertinggal jauh dengan budaya non-materialnya dan budaya itu adalah pemikiran para pelaksana RPP tersebut. Namun, dilihat dari bagian yang lain sudah jelas bahwa secara pribadi kita bisa memahami pendidikan dari level analisa yang dipaparkan di atas. Membutuhkan kajian mendalam tentang pelurusn pendidikan, sehingga hasil yang didapatkan-pun terverifikatif.

Selanjutnya, bagian yang harus diperhatikan adalah dampak yang terjadi. Terdapat penurunan kualitas terutama disektor karakter pendidikan, sejujurnya sudah dicanang oleh Presiden pertama Sokarno mengenai pembangunan karakter bangsa. Hanya kembali pada point awal kita, bahwa pendidikan tersebut terlalu sibuk menggodok sisi adminitratif dan cara mengembangkan pendidik yang normatif, sehingga masyarakat tak paham cara menggunakan administrasi tersebut sebagai senjata pembangunan karakter pemuda. Alhasil, pemusatan struktural kita akan terus berputar pada lingkaran pembenahan retorika di dalam administrasi tersebut. 

Pada akhirnya pembangunan pendidikan di Hari Pendidikan Nasional yang dirasa oleh siswa-siswi nusantara hanya-lah utopia pendidikan. Semua tergantung pada pilihan para pragmatisme yang sesuai dengan pandangan nilai konservatif. Tetapi, bukan berati sisi kelam yang dilihat tak akan menimbulkan sebuah lentera baru di dunia pendidikan. Hal tersebut akan terjadi jika kita berani membentuk sebuah hegemoni baru dalam pendidikan, tanpa sebuah intrik politik dan pesanan politik kepada para aktor pendidik. Maka insyallah, kebangkitan peradaban Indonesia akan maju dalam segala sektor andai buah pemikiran anak-anak yang cerdas di negeri ini dapat kita selamatkan.

Minggu, 29 April 2018

Mengawal Budaya Politik Yang Waras



Sumber Gambar : Google 

Tak ada yang salah dalam politik, saling menjegal satu dengan lainya adalah hal wajar. Karena memang sifat politik itu jahat. Apalagi jika bicara kontek politik demokrasi, pasti saja ada korban baik itu elite politik bahkan rakyat yang pelanga-pelongo. Lalu sebagai masyarakat yang miskin pengetahuan, apa yang harus dilakukan ?, Apa kita harus kuliah jurusan ilmu politik ?, Atau ya manggut-manggut aja lah supaya aman ?.

Kemudian di tahun 2018 dan 2019 Indonesia sedang gencar meluncurkan panah politik ke masyarakat kita, ragam promosi bak marketing produk saling memasarkan kelebihan tiap kelompoknya masing-masing. Namun tak jarang saling menjatuhkan kelompok lain dengan cara-cara picik, contohnya yang sedang ngetrend sekarang “politik bawa-bawa agama” katanya. Waduh makin bingungkan pemirsan ?, jadi kita harus ngapain nih sebenarnya ? hastag kapital.

Bukan berati tanpa daya jika tak berpengetahuan politik, tak suka dengan politik itu boleh tapi kalo buta politik itu yang tak boleh. Apalagi umat Muslim tak tahu politik, bisa-bisa Aqidah terjual gara-gara pasrah kepada politik. Rasul mengajarkan kepada kita bahwasanya sebagai seorang Muslim harus taat kepada Khalifah, salah satu bentuk taat yaitu memilih pemimpin atau Khalifah dengan cara membai’at seseorang. Berangkat dari apa yang diajarkan Rasul, terselip makna bahwa kita harus mampu mebaca arti politik dan harus mau berpolitik. 

Memang tak harus semua masyarakat melek dan ikut berpartisipasi politik, hanya jangan sampai suara politik kita dibungkam, masih ingat kasus di Mesir saat rakyatnya diam dalam berpolitik, maka dengan sigap lawan mengambil suara kita untuk dijadikan partisipan palsu mereka agar mendapatkan kemenangan, hingga akhirnya menang. Dalam seketika Mesir carut marut dan kondisi politik Mesir-pun saat itu memanas. Contoh lain, di Jakarta beberapa tahun kemarin ketika pak Jokowi dan Ahok memenangkan Pilgub Jakata. Secara mengejutkan dan diluar ekpektasi Jokowi malah melanggeng naik ke tahta kepresidenan tahun 2014. Selanjutnya yang terjadi bukannya membaik malah menjadi ancaman baru bagi masyarakat, majunya Ahok sebagai pengganti Jokowi membawa isu yang kurang enak. Satu tahun menjelang pemilu Jakarta, masyarakat malah disuguhkan dengan bahasan peperangan politik berbasis agama. Walau-pun Ending-nya kemenangan untuk Anies dan Uno, tetapi jejak SARA masih tersebar luas sebagai jelmaan ekspansi politik atas ketidakpuasan kubu lawan. Hebatnya, kondisi tersebut menjamur ke tiap Pilkada dan pastinya ke Pilpres 2019 nanti. 

Kasus-kasus di atas sebetulnya sudah menjawab, mengapa sebagai rakyat harus mau berpolitik. Buta maka dengan mudah diperalat oleh kelompok kepetingan, tak cerdik maka hancur kedamaian bangsa, maka kita perlu mengkaji lebih dalam bagaimana politik tersebut mengalir. Almod dan verba mengatakan bahwa budaya politik dibagi menjadi tiga bagian, pertama Pertisipan yaitu mereka yang mengerti peranya sebagai warga negara dan memperhatikan perkembangan politik, Kedua Subjek yaitu masyarkat yang paham akan perkembangan poltik namun enggan memakai peranya sebagai warga negara, lalu yang ketiga Paroki tidak terlalu peduli dengan identitasnya sebagai warga negara. Ketiga budaya tersebut memang harus disesuaikan dengan Nilai, simbol, dan kepercayaan terhadap sistem politik bangsa. Tetapi ketiga pilihan ini sebenarnya harus dibangun menjadi lebih spesifik ke arah yang madani, karena syarat membangun peradaban yang baik harus dibarengi dengan budaya politik yang baik pula. Skema sederhananya yaitu masyarakat harus mampu membangun kekuasaan berdasarkan apa yang mereka inginkan dan mereka memiliki alasan yang kuat mengapa mereka melakukannya, inilah yang disebut pandangan politik rasional. Disisi lain, hal ini membutuhkan sekelompok masyarakat yang mampu memberikan pemaparan dan promosi secara konsisten sehingga menjadi budaya. Sementara jika berbicara siapa gerakan yang mampu membangun pemikiran kita hingga sampai kesana,maka jawabanya pasti banyak dan massive. Khususnya Indonesia semenjak Reformasi, organisasi yang bertujuan membangun masyarakat sipil menjamur diragam sektor. Hanya saja sampai mana progres tersbut berjalan belum mampu merubah cara pandang masyarakat terhadap politik, karena menentang budaya yang sudah terpatri pada masyarakat tak semudah membalikan tangan manusia. Tapi, dengan mendalami dan mempelajari sistem politik yang cocok bagi bangsa kita maka bukan tak mungkin sebuah budaya baru dapat dibentuk. Semua tergantung seberapa kuat kita mempromosikan dengan cerdas budaya baru tersebut, dan yang terpenting seberapa mantap budaya yang bertahan mau-pun yang terbaru mengimplementasikan perubahan secara realistik bagi masyarakat untuk tidak antipati kepada politik. Sehingga perbandingan dapat dilihat oleh masyarkat , lantas menjadi cerminan budaya politik bangsa.


Senin, 16 Oktober 2017

Lapang, Sawah, Permainan Tradisonal, dan Karakter Anak

Masih ingatkah dengan masa kecil kita saat bermain bersama di lapangan atau di sawah, beragam permainan dilakukan oleh anak kecil saat itu yang mampu mengasah kreativitas anak seperti egrang, momobilan, klereng, atau yang hingga saat ini masih bertahan bermain bola. Permainan tersebut merupakan wadah rekreasi yang sederhana namun bermakna, disela-sela kesibukan pendidikan yang membebani mereka lapangan, sawah, dan permainan tradisonal seringkali menjadi obat rasa bosan mereka.

Tetapi kita tak bisa memungkiri hal-hal yang seperti disebutkan di atas sudah tergerus oleh zaman, era globalisasi telah merubuhkan cara-cara tradisionil dalam melakukan aktifitas rekreasi. Ada-pun pihak yang melestarikan, namun untuk penyebaranya masih sulit diterima karena beragam faktor. Selian itu masuknya paham modernisme dan globalisasi secara tidak sengaja membawa sebuah inovasi baru yang bernama teknologi. Seperti yang kita ketahui berkembangnya zaman maka kebutuhan yang efisien juga semakin dibutuhkan, sehingga diciptakanlah yang namanya handphone, playstation, atau-pun beberapa teknologi lain sebagai upaya pengembangan inovasi dan mengefisiensikan permainan-permainan anak.

Padahal jika ditelusuri secara empiris dari beberapa literatur yang membicarakan tentang permainan tradisional,  maka akan kita temukan manfaat menarik untuk daya kongnisi, psikomotorik, atau-pun afeksi anak. Hal ini diperkuat oleh Misbach (2006:7) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa permainan tradisional dapat menstimulasi berbagai aspek perkembangan anak yang dapat meliputi hal-hal sebagai berikut :

1.    Aspek motorik dengan melatih daya tahan, daya lentur, sensori motorik, motorik kasar, dan motorik halus.
2. Aspek kognitif dengan mengembangkan imaginasi, kreativitas, problem solving, mengembangkan keterampilan dalam pertumbuhan anak.
3.   Nilai untuk kesehatan mental yang baik, yaitu: membantu anak untuk mengkomunikasikan perasaannya secara efektif dengan cara yang alami, mengurangi kecemasan, pengendalian diri, pelatihan konsentrasi.  Nilai problem solving, anak belajar memecahkan§ masalah sehingga kemampuan tersebut bisa ditransfer dalam kehidupan nyata. 
4.    Nilai sosial, anak belajar ketrampilan sosial yang akan berguna untuk bekal dalam kehidupan nyata.

Begitu beragama kebermanfaatan yang diterima oleh masyarakat jika kita tahu asyiknya bermain mainan tradisional. Oleh karena itu masyarakat  dalam menghadapi tantangan permainan modern, nilai kearifan lokal-lah yang harus mampu mengimbangi cara pikir mereka. Karena dari fakta yang ditemukan oleh beberapa peneliti, pola asuh keluarga untuk menanamkan nilai karakter lebih mengedepankan aspek kongnitif lewat teknologi dibanding mengajak mereka keluar rumah untuk berinteraksi  dengan lingkungan sekitar. Tak hanya itu saja, tantangan lain seperti fasillitas yang serba digusur membuat lahan permainan anak-anak menjadi minim atau bahkan tidak ada, hingga akhirnya mereka tak dapat sebuah pilihan yang lain selain bermain teknologi (gadget, laptop, dsb).


Hasil diskusi antara penulis dengan salah  satu alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan bahwa pendidikan karakter yang sedang di gadang-gadang oleh pejabat pendidikan ternyata sulit diterapkan jika harus dengan keadaan formal. Beliau menuturkan bahwa secara tidak langsung karakter itu dibentuk pada dasarnya dari orang tua dan permainan. Maka jangan aneh jika di era millenia sekarang kita menghadapi generasi egois dan tak paham akan kata afektif, karena lingkungan yang membentuk-pun sudah tak sekondusif seperti dahulu. Sementara di sisi lain, kita sebagai pendidik tak bisa secara subjektif menjustifikasi bahwa tekonologi memiliki dampak yang buruk, hanya saja penggunaan yang bijak dan manajemen yang baik akan membentuk kolaborasi luar biasa untuk mendidik karakter anak. Semua tergantung pada bagaimana kita mempresepsikan permainan tradisonal dan permainan berbasis teknologi, karena secara praktis keduanya tak bisa kita lepas dari sendi-sendi kehidupan masyarakat hari ini.

Senin, 02 Oktober 2017

Menggoreng isu “KOMUNISME” lewat pencerdasan diri



Kebangkitan komunisme di era presiden jokowi menjadi topik hangat masyarakat kita hari ini, di tengah beragam masalah sosial yang dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat indonesia isu tersebut mampu memperkeruh penderitaan bangsa ini. Adu serang argumen serta manipulasi informasi membuat jati diri masyarakat dalam keadaan anomi, belum lagi isu ini mampu diakses oleh beragam kalangan dan usia lewat media sosial yang tersedia disetiap Gadget pemiliknya.

Jelas hal ini bukan-lah perkara enteng, munculnya isu HOAX yang mudah dipercaya membentuk kesenjangan antara fakta sejarah dan prespektif suatu kejadian lewat sejarah. Sehingga secara gamblang kita mampu menelusuri isu komunisme lewat media sosial tanpa harus mengetahui keabsahannya.



Tak hanya itu, karakteristik masyarakat kita yang selalu mengedepankian primodialisme dan etnosentrisme menghadirkan perkara yang lebih parah lagi dalam isu komunisme kali ini, hal tersebut dapat kita telisik dari pendapat warga indonesia yang masih memegang erat dendam lama 30 september 1965. Namun yang menjadi pergunjingan dalam menyikapi komunisme tak kala isu tersebut kembali digulirkan secara serentak masyarakat menjadi buas dan liar memandang perkara tanpa ada landasan dasar  yang empiris. Lucunya ketika salah satu Nettizen berhasil menghakimi idelogi komunisme adalah hantu nyata, mereka tak mempunyai info yang valid dan mampu dipertanggung jawabkan dari mana mereka mendapatkan kajian bahaya laten komunis. Lalu setelah itu tak segan-segan mereka me-repost asumsi tersebut sehingga lambat laun seakan-akan argumen atau gambar yang ditampilkan adalah riset yang telah diuji kebenaranya.

Bukan tanpa sebab jika penulis sedikit menyindir antusiasme masyarakat dalam menyikapi komunis, hanya saja perlu pandangan yang jernih dalam memahami isu global yang secara sengaja menggiring prespektif kita. Selain itu pemahaman lewat media sosial soal komunisme perlu kita kaji kembali dengan membaca dari beragam sumber dan kita uji kembali hal tersebut lewat riset kecil, sehingga masyarakat menjadi cerdas dalam memahami kebenaran suatu isu yang sedang viral dibicarakan.

Selanjutnya harapan penulis kepada masyarakat yang sudah menonton penghiatanan G30SPKI lewat media sosial, jangan sampai kita menjadi warga internet yang terburu-buru dalam menggulung isu, menggoreng isu, hingga memakan isu. Kebencian tentang komunisme harus kita lanjutkan secara ideologi tetapi penyikapan yang baik serta informasi yang valid dan dapat diuji keabsahannya haruslah jadi budaya yang didifusi, sehingga ketika banyaknya pro dan kontrak dalam memahami sebuah problematika kita sudah yakin bahwa sebuah kebenaran akan terungkap jika rasa sabar dan mau mengkaji menjadi pilihan pertama dibanding mempercayai media sosial yang sedang viral.

Rabu, 07 Juni 2017

Ngahuma Cikal Sistem Pertanian Sunda

Sebagai salah satu negara penghasil padi terbesar di dunia, sudah barang tentu sektor pertanian merupakan salah satu ladang nafkah bagi warga indonesia dan berlangsung cukup lama, sehingga mau tidak mau sistem pertanian merupakan identitas sejarah bagi masyarakat  kita dalam sektor ekonomi.  

Kemunculan sistem pertanian sesungguhnya tidak terlepas dari pergeseran alam dan budaya yang sangat sering berubah dan menuntut, proses perubahan sistem mata pencaharian berburu dan meramu menjadi sistem bercocok tanam itu merupakan salah satu peristiwa besar dalam proses perkembangan budaya manusia. Para ahli sering menyebutnya “revolusi “ dalam perbadaban manusia.

Hal tersebut juga dialami oleh sistem pertanian di tatar Sunda, “ngahuma”. Sistem berladang dengan sistem pertanian yang mengubah hutan alam menjadi hutan garapan ini merupakan warisan entitas budaya warga jawa barat yang harus kita ingat bahkan dilestarikan. Berladang yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat sunda, sulit terpisahkan dari tatar ruang aktifitas masyarakatnya.  Tetapi lambat laun sistem “ngahuma” ini mendapat pergesaran dan kurang efektif dipakai kembali, penyebabnya tak lain pemenuhan kebutuhan hidup yang dituntut efektif dan efesian. Alhasil pola “ngahuma” dianggap kurang fleksibel, lantas juga masuknya sistem pertanian yag dibawa oleh kerajaan mataram pada abad 17 hingga 18 membuat sistem “ngahuma” makin bergeser ke pola pertanian “tumpang sari”. Maka sejak saat itu daerah tatar sunda bagian selatan (bandung, Cianjur, dan Garut) sudah mulai terbiasa meninggalkan pola pertanian “ngahuma” dan beralih pada pertanian di atas tanah milik kehutanan yang sedang direboisasi.


Lalu apakah “ngahuma” hilang begitu saja?, ternyata sistem ini masih menjadi kebudayaaan bagi masyarakat baduy, pantrangan menggunakan pola pertanian sawah yang sudah umum ini tak terlepas dari sejarah yang begitu panjang dan kepatuhan pada adat yang terpatri. Sehingga penggunaan sistem konservatif ini masih terus berlangsung hingga sekarang, namun hal ini bukan tanpa keuntungan. Dari sisi kelestarian, sistem ngahuma ini ramah sekali dengan alam. Melalui proses dan ritual yang dilakukan dalam penggunaan sistem pertanian “ngahuma” terbukti ramah lingkungan. Sebagaimana artikel yang dibuat oleh organisasi gerakan mahasiswa nasional indonesia region sumedang yang meneliti tentang sistem “ngahuma” yang mengungkapkan bahwasanya sistem pertanian ini mampu bersahabat dengan alam. Oleh karenanya, pengetahuan mengenai “ngahuma” haruslah kembali dibangkitkan di tataran pertanian indonesia sebagai bentuk penyelamatan lingkungan dalam bentuk kearifan lokal.

Sabtu, 03 Juni 2017

Media Sosial Dalam Pandangan Mata Pisau

            Jikalau kita memahami makna media sosial adalah sarana merekatkan ukuwah islamiah, mungkin bisa jadi kita dapat bersatu dari ujung sabang hingga merauke. Jikalau kita memahami sesungguhnya media sosial adalah alat yang kuat guna menciptakan hegemoni kebaikan, maka tak mungkin kita bisa melupakan saudara kita yang diviralkan akibat penderitaan. Karena sesungguhnya otak manusia yang kecil memiliki fungsi seluas dunia, bayangkan saja ketika zaman dahulu, kita ingin menatap wajah sang gadis yang jauh di seberang sana haruslah menggunakan imajinasi. Tapi untuk saat ini dengan sekejap segala bentuk emosi yang tertuang dalam foto mampu kita akses.

            Berucap-lah mulut dan hati, “nikmat tuhan mana lagi yang  kau dustakan” (Al-Qur’an; SuratAr-Rahman). Ya, sungguh seharusnya kita bersyukur kepada Allah SWT, karena berkat kekuatanya Allah  telah menciptakan sebuah benda yang mampu mendekatkan pada amalan silaturahmi. Tak perlu-lah kita habis-habis bensin atau kertas untuk mengabari sanak saudara kita yang jauh, sekarang hanya perlu klik maka sampai-lah semua isi hati kita ini.

            Tapi, terkadang hidup di alam kapitalesme tak seperti “charger” handphone yang mengisi aura positif secara terus menerus tanpa mempertimbangkan kapan masanya akan rusak, ada juga sisi negatif dalam penggunaan suatu objek. Contoh kecilnya saja adalah pisau, pisau difungsikan bagi ibu rumah tangga sebagai alat dalam memasak. Namun ketika pengontrolan diri si ibu tak stabil maka penggunaan pisau akan berbalik fungsi menjadi mata rantai pembunuhan massal. Analogi yang penulis ungkap di atas tadi tak elaknya seperti watak netizen saat ini. Dimana peran media sosial dalam membangun dan membunuh seseorang sangat tergantung pendendalian diri.

            
Gambar dikutip dari google

Sehingga ketika kita kembali kepada fakta yang tersedia, bahwa penggunaan media sosial di Indonesia hari ini bak buih di lautan. Hampir semua elemen mempunyai akun-akun di dunia maya, hampir semua usia sangat menyukai huru-hara jejaring sosial, dan hampir semua orang terkontrol dalam genggaman media sosial. Seolah seperti ada damarkasi yang membatasi presisi individu dalam memaknai arti dari hidup itu apa. Parahnya lagi, dosis penggunaanya cenderung pada kaidah-kaidah racun dan mematikan orang-orang. Contohnya seperti presepsi yang terbangun atas dasar emosi, jelaga dosa yang diumpat oleh imajinasi, dialektika antara tuhan beserta hambanya, belum lagi kebiasaan kita yang selalu menjadi subordinasi terhadap prinsip-prinsip “hits” di kota-kota urban mebentuk kita menjadi penggunan media “kebohongan” sejati.


Di sisi lain, amunisi media sosial dalam merekontruksi peradaban masa kini sangat luar biasa masyallah. Mempertemukan seorang pasangan atau anak yang hilang, alat pengendalian suhu politik, dan banyak contoh lagi yang membangun media sosial sebagai sarana pertolongan umat. Namun, secara tak sadar hal ini malah terkubur di tengah hingar-bingar eksistensi diri dan akhirnya malah terjebak dalam telaga dusta. Semua tergantung anda-anda dalam menyikapi permasalahan media sosial dan perangkatnya, karena mulai dari detik ini jarimu bisa menjadi harimau-mu.