Aku adalah seorang guru
yang memiliki visi bahwa pendidikan takan bisa dibawa berlari jika harus
memakai sistem yang sama dan pola yang sama. Kita (pemerintahan) itu terlalu
ambisi dengan sistem, bukan sumberdaya dan kompetensi diri. Alhasil banyak
kekecewaan ketika idealisme yang didapat saat belajar dikampus dengan keadaan
realita di tempat pendidik tersebut bekerja. Mereka selalu bilang bahwa kita
butuh perubahan dalam menginisiasi pendidikan agar lebih maksimal, sama seperti
Finlandia kita mampu kok menerapkan sistem yang serupa. Tapi mereka tak
berfikir bagaimana karakter masyarakat kita secara sosial dan budaya, jelas
kita itu tertinggal 75 tahun dengan Finlandia akan kesadaran berpendidikan.
Anak muda adalah rekan
sejati dalam melakukan sebuah perubahan, hukum itu tak berati di dunia
pendidikan. Doktrin kuat para senior telah menjamur dan masuk menjadi struktur
sosial di sekolah, lihat posisi-posisi penting dalam pengembangan pendidikan di
Sekolah Menengah Atas khususnya yang dipegang oleh pemerintahan. Selalu harus
oleh senior yang bertitel Pegawai Negeri Sipil, selalu mereka yang sudah lama
bekerja di instansi tersebut, atau selalu anak muda yang siap menjilat para
senior agar mendapatkan posisi demi keuntungan pribadi.
Ketika kita perlente
sedikit, maka menjadi sasaran empuk para pemakan daging sesama saudaranya.
Beringas seperti serigala, liar seperti tak diberi akal dan akhlak, maka tak
salah perkataan seorang filsuf “homo homini lupus” jika dimpretasikan dalam
dunia pendidikan. Teman dekat yang satu visi bisa berubah hanya karena perintah
dan uang, murid yang salah bisa benar jika sudah berkaitan dengan keturunan,
hingga jika kita seandainya berjalan dijalan yang menurut mereka salah maka
hati-hati pekerjaan bisa menghilang. Sempat
ku tantang rekanku, “mengapa aku tak pernah dikritik ?, takut ?, atau malas
berdiskusi karena terlalu lama menjadi babu dan dijejali uang ?” namun tak ada
jawaban yang mampu ditafsirkan dari semua permasalahan ini. Semua kembali lagi
pada posisi yang harus ditempati dan jangan ada lagi letupan bodoh soal inovasi
karena aku tak ingin kehilangan pekerjaanku.
Kaget pasti jika
pembaca yang budiman melihat seluruh alur cerita ini, tapi ini adalah fakta
yang dialami oleh saya dan ribuan guru honorer di seluruh Indonesia. Gajih yang
tidak sebanding dengan tanggung jawab, tak ada reward dan punishmen dari
berbagai elemen, sampai matinya seorang pengabdi bangsa di tempat yang tak
layak. “Jika anda mau merubah jadilah menteri ubah sana !”, hardikan seperti
itu sudah dianggap wajar bagi kaum idealis pendidikan. Bahkan selintingan
seperti yang lainya soal guru muda sudah membentuk jiwa yang apatis, namun jangan
aneh untuk sebagaian dari mereka yang tak kuat malah memilih untuk menjadi
pegawai bank. Mengapa demikian ? setelah ditelusuri jelas mereka memelih
profesi non kependidikan karena gajih yang jelas, sistem kerja yang jelas, jam
kerja yang jelas, hingga naik dan turunya jenjang karir yang jelas. “Kalo jadi
guru mah serba ga jelas kerjaan kita apa dan imbalanya berapa” pungkas seorang
sarjana pendidikan lulusan salah satu universitas di Bandung. Tanggapan
tersebut setidaknya memperkuat asumsi-asumsi bahwa profesi guru untuk anak muda
adalah utopia karena bagi yang sudah mengalami secara empirik bagaimana sistem
kerja dan teknis kerja, mereka merasa dirugikan baik materil maupun non
materil. Satu-satunya pengharapan adalah mengikuti seleksi CPNS, lalu
selesailah masalah kesejahteraan yang dialaminya. Maka pertanyaan dari hipotesa
yang dibangun dari pernyataan tersebut adalah bagaimana bagi mereka yang tak
lulus tes ?, bagaimana cara pemerintah mengapresiasi mereka yang tak bisa
mengikuti tes CPNS karena masalah usia ?, bagaimana sikap sekolah dalam
memperjuangkan para honorer ?, dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang
timbul dari satu subjek pernyataan tadi.
Mungkin tak ada harapan
lagi soal pendidikan jika kalian membaca artikel ini, atau ada yang menyanggah
dengan idealisme tak berdalil. Oleh karena itu janganlah anda tempatkan diri
anda pada prespektif orang-orang yang tidak merasa, resapilah dan
berkomentarlah sesuai realita dan fakta seperti kita bermain peran dalam sebuah
theater. Pasti anda akan memahami
bahwasanya sebuah fenomenan akan mampu digali dengan emosi dan akal yang
sama-sama sehat.