Rabu, 05 Desember 2018

PERLENTE


Aku adalah seorang guru yang memiliki visi bahwa pendidikan takan bisa dibawa berlari jika harus memakai sistem yang sama dan pola yang sama. Kita (pemerintahan) itu terlalu ambisi dengan sistem, bukan sumberdaya dan kompetensi diri. Alhasil banyak kekecewaan ketika idealisme yang didapat saat belajar dikampus dengan keadaan realita di tempat pendidik tersebut bekerja. Mereka selalu bilang bahwa kita butuh perubahan dalam menginisiasi pendidikan agar lebih maksimal, sama seperti Finlandia kita mampu kok menerapkan sistem yang serupa. Tapi mereka tak berfikir bagaimana karakter masyarakat kita secara sosial dan budaya, jelas kita itu tertinggal 75 tahun dengan Finlandia akan kesadaran berpendidikan. 

Anak muda adalah rekan sejati dalam melakukan sebuah perubahan, hukum itu tak berati di dunia pendidikan. Doktrin kuat para senior telah menjamur dan masuk menjadi struktur sosial di sekolah, lihat posisi-posisi penting dalam pengembangan pendidikan di Sekolah Menengah Atas khususnya yang dipegang oleh pemerintahan. Selalu harus oleh senior yang bertitel Pegawai Negeri Sipil, selalu mereka yang sudah lama bekerja di instansi tersebut, atau selalu anak muda yang siap menjilat para senior agar mendapatkan posisi demi keuntungan pribadi.

Ketika kita perlente sedikit, maka menjadi sasaran empuk para pemakan daging sesama saudaranya. Beringas seperti serigala, liar seperti tak diberi akal dan akhlak, maka tak salah perkataan seorang filsuf “homo homini lupus” jika dimpretasikan dalam dunia pendidikan. Teman dekat yang satu visi bisa berubah hanya karena perintah dan uang, murid yang salah bisa benar jika sudah berkaitan dengan keturunan, hingga jika kita seandainya berjalan dijalan yang menurut mereka salah maka hati-hati pekerjaan bisa menghilang.  Sempat ku tantang rekanku, “mengapa aku tak pernah dikritik ?, takut ?, atau malas berdiskusi karena terlalu lama menjadi babu dan dijejali uang ?” namun tak ada jawaban yang mampu ditafsirkan dari semua permasalahan ini. Semua kembali lagi pada posisi yang harus ditempati dan jangan ada lagi letupan bodoh soal inovasi karena aku tak ingin kehilangan pekerjaanku.

Kaget pasti jika pembaca yang budiman melihat seluruh alur cerita ini, tapi ini adalah fakta yang dialami oleh saya dan ribuan guru honorer di seluruh Indonesia. Gajih yang tidak sebanding dengan tanggung jawab, tak ada reward dan punishmen dari berbagai elemen, sampai matinya seorang pengabdi bangsa di tempat yang tak layak. “Jika anda mau merubah jadilah menteri ubah sana !”, hardikan seperti itu sudah dianggap wajar bagi kaum idealis pendidikan. Bahkan selintingan seperti yang lainya soal guru muda sudah membentuk jiwa yang apatis, namun jangan aneh untuk sebagaian dari mereka yang tak kuat malah memilih untuk menjadi pegawai bank. Mengapa demikian ? setelah ditelusuri jelas mereka memelih profesi non kependidikan karena gajih yang jelas, sistem kerja yang jelas, jam kerja yang jelas, hingga naik dan turunya jenjang karir yang jelas. “Kalo jadi guru mah serba ga jelas kerjaan kita apa dan imbalanya berapa” pungkas seorang sarjana pendidikan lulusan salah satu universitas di Bandung. Tanggapan tersebut setidaknya memperkuat asumsi-asumsi bahwa profesi guru untuk anak muda adalah utopia karena bagi yang sudah mengalami secara empirik bagaimana sistem kerja dan teknis kerja, mereka merasa dirugikan baik materil maupun non materil. Satu-satunya pengharapan adalah mengikuti seleksi CPNS, lalu selesailah masalah kesejahteraan yang dialaminya. Maka pertanyaan dari hipotesa yang dibangun dari pernyataan tersebut adalah bagaimana bagi mereka yang tak lulus tes ?, bagaimana cara pemerintah mengapresiasi mereka yang tak bisa mengikuti tes CPNS karena masalah usia ?, bagaimana sikap sekolah dalam memperjuangkan para honorer ?, dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari satu subjek pernyataan tadi. 

Mungkin tak ada harapan lagi soal pendidikan jika kalian membaca artikel ini, atau ada yang menyanggah dengan idealisme tak berdalil. Oleh karena itu janganlah anda tempatkan diri anda pada prespektif orang-orang yang tidak merasa, resapilah dan berkomentarlah sesuai realita dan fakta seperti kita bermain peran dalam sebuah theater. Pasti  anda akan memahami bahwasanya sebuah fenomenan akan mampu digali dengan emosi dan akal yang sama-sama sehat.

Rabu, 17 Oktober 2018

KESALAHANKU


Hari ini seperti biasanya aku masuk ke sekolah bertemu guru-guruku yang baik dan juga menyebalkan. Tak ada harapan selain tatapan pasrah menjalani hari tanpa sebuah kesenangan, karena dipaksa harus berpendidikan supaya menjadi manusia yang seutuhnya.  Aku yang terbiasa bangun tepat jam 04.00 pagi masih saja dianggap pemberontak karena keterlambatanku ke sekolah, alasanya jelas menyamaratakan kedisiplinan agar menjadi manusia yang taat akan norma. Padahal kalau mereka ingin tahu apa saja yang ku kerjakan adalah sesuatu yang penting bagi keluarga tanpa seorang sosok ayah. Namun sekali lagi aku menghela nafas, “ah apa dayaku!”. Stigma dan sistem seolah virus yang gampang menempel pada setiap insan yang mengajar, selalu ada label jelek kalo kita seperti ini maka kita akan seperti itu. Sehingga ini dan itu adalah imbuhan yang membodohi agar kita tunduk pada sistem yang kita sendiri juga tak paham. “aneh bin ajaib” gumamku. 

Mulailah pelajaran pertama semua diwajibkan memperhatikan dengan baik dan seksama sampai kalian bisa bukan tahu, hal ini jadi mengingatkanku pada jargon ospekan yaitu pasal 1; senior selalu benar lalu pasal 2; jika anda salah maka lihat lagi pasal 1. Tak lama aku menyeringai dalam lamunanku, “sebodoh itu yah” ucapku ditengah ketenangan kelas. Selang waktu berlalu tak terasa sudah pukul 09.40 WIB, “ahh sebentar lagi selesai juga kau membacot, sebaiknya aku makan cepat-cepat supaya lamunanku indah lagi” ucapku pada Rida teman sebangku-ku. “hahaha hidup itu nikmat bos, kau terlalu banyak mengeluh” balasnya. Ya ada betulnya apa yang dikatakan Rida, tapi apakah dia tak merasa kalo kita ini sedang di jeruji tanpa besi atau jangan-jangan dia diberi serum hidup flat seperti difilm hollywood sehingga dia tak peka pada kehidupan yang dijalani bersamaku dan teman-teman lainya.

Tiba saat bell masuk berbunyi datanglah si Djendral petangtang-peteteng, “gabut euy ngapain yah ?” tanyanya padaku, “ga tau ah aku ge bingung” sembari ku tatap tajam arah jarum jam,”kan si pak Rizal gak ada, mending kita ngeroko weh aku ada nih sebatang” ajak Djendral sembari menggodaku. Tanpa banyak basa-basi kuterima ajakan dia dan kutegakan badanku untuk sesuatu yang extream, “sungguh hatiku tak cemas karena ini lembaga pendidikan?” tanyaku. Ditengah perjalanan nurani ku kembali bertanya “beng kau tak salah melakukan ini ?”, dan dengan tegas jawabanku adalah “tidak 100 % tidak, karena kau tak tahu persamaan penjara dengan sekolah itu seperti pinang yang dibelah dua”. Sehingga tak salah jika aku cari ketenangan lewat pemberontakan seperti ini, dilain hal aku juga sudah dicapkan sebagai bocah nakal hanya gara-gara selalu terlambat maka tak salah juga jika aku melakukan kenakalan karena kau saja memandang diri ini separuh-separuh.

Pematik ku nyalakan, sebatang roko ini menjadi saksi atas semua kejenuhanku yang kurasa selama 3 tahun mengenyam bangku sekolah. Dinamika hanya ada di buku yang ku baca, sisanya selalu berpola seperti itu-itu saja. Jika salah dimaki, kalo mencoba kritis makin dicaci, baik sedikit disindir, kalo mereka yang salah selalu nyinyir. Rasa takut memang ada, aku takut orang tuaku kecewa atas pemikiranku. Ibuku yang mengharapkan aku menjadi anak yang berbakti malah menjadi dalang onar, dilema memang dilema tapi sudahlah toh semua ini ada alasan yang hanya segelintir orang memahaminya. Selagi aku tak melanggar norma agama yang diajarkan oleh ibuku tak masalah, beliau juga tahu kok aku meroko karena sejak kecil terbiasa akan asap roko almarhum ayahku.

Bak gayung menyambut, ternyata pemberontakanku ketahuan oleh seorang guru bernama kure yang sengaja ingin ke WC karena mencium bau khas tembakau. Djendral yang menjadi langganan guru killer kabur secepat kilat meninggalkanku, bukan bermaksud berkhianat. Disini anda harus paham bahwa konsekuensi itu milik pribadi, tak ada konsep kolektif jika kau ketahuan. Berdosalah untuk kau tanggung sendiri, karena setiap tindakan berawal dari keinginan diri sendiri. Gemuruh suara kamar mandi saat itu menjadi seni bahwa konflik akan selalu ada, bentakan dan suara bantingan benda menjadi instrument terpenting kisah ini. Sigap dengan mata melotot, pipi memerah, komat-kamit makian padaku terngiang di kupingku seperti suara Sukhoi yang memborbardir Timur Tengah. Kemudian masuklah aku ke ruangan yang sering aku kunjungi setiap pagi, kadang juga dengan orang tuaku ketika siang hari tak lain yang kuberi nama ruang Bimbingan Kosleting atau Bimbingan Pengadilan.

Sontak semua mata tertuju padaku layaknya peserta audisi acara pencarian bakat di televisi, ada juri yang siap menghitung kesalahanku, ada komentator yang siap menjustifikasi diriku, ada penonton juga yang siap memandang sinis perlakuanku, tak lupa ada penggosip yang akan menyebarkan berita bias ke seantero sekolah ini. Sampai akhirnya aku dihukum sebagai murid dengan kesalahan kelas berat karena ketahuan 1 kali merokok dan terancam divonis drop out, sebagai pembelaan aku melayangkan banding dengan mengkomparasikan murid yang pelanggaranya lebih parah dariku bahkan sifatnya kriminal, rally panjang penjelasan kedua belah pihak hanya kebuntuan, maka diakhir cerita masalah ini hanya ada dengan sebuah kalimat yang sifatnya pembenaran bahwasanya “IKUTI ATURAN KALAU MASIH BETAH, PERIHAL TEMANMU ITU NANTI IBU CARI”. Sungguh horor.

Senin, 10 September 2018

Bermesraan Lewat Mimpi


Bagaimana cara mebahagiakan diri dalam kepungan permasalahan, maka saya akan menjawab bermimpilah. Mimpi itu tak mahal, oleh karenanya banyak orang suka untuk bermimpi. Lewat mimpi kita dapat menaruh setitik bahkan segunung harapan dimasa depan, apa yang kita harapkankan, apa yang kita butuhkan, hingga apa yang kita damba-dambakan. Sejatinya tujuan mimpi adalah coretan yang harus digapai kelak, sehingga ada semacam usaha yang harus dilakukan sebagai bentuk proses dalam merealisasikan mimpi tersebut. 

Mimpi juga menjadi kenangan yang indah ketika masa lalu telah usang termakan oleh waktu, bersuka ria, bersuka cita, ataupun bersedih atas apa yang dilakukan oleh diri ini adalah cara-cara mendapatlan sedikit memori bahwa sesungguhnya mereka dan kita pernah ada. Eloknya lagi, lewat mimpi manusia seakan diberikan arah bagaimana mengatasi problematika diri dan keumatan. Jika anda tak percaya cobalah tengok kisah nabi Yusuf As, dimana dia diberi karomah lewat mimpinya oleh Allah untuk menyelesaikan masalah pangan saat itu. Selain nabi Yusuf, Rasul kita Nabi Muhammad SAW diberikan pula karomah dalam mimpinya ketika beliau akan dicelakai oleh seorang dukun yahudi. 

Begitu dahsyatnya kekuatan mimpi membuat kita seolah memiliki power dalam menjalani kaset-kusutnya kehidupan, tak salah ketika seorang yang bijak berkata bahwasanya “bermimpilah setinggi langit” hal ini lantas menandakan pentingnya arti dari mimpi. Lewat mimpi seorang anak pemulung yang hanya berpenghasilan 20 ribu untuk satu harinya mencukupi keluarga, lalu bermukim di gubuk kotor berhasil meraih kesuksesan menjadi seorang dokter. Kemudian, jika anda sekalian penikmat film mungkin pernah mendengan sebuah judul film dari India yaitu 3 Idiots. Dimana dalam film tersebut kita disuguhkan sesuatu yang takkan pernah terjadi namun diluar dugaan mereka menjadi seseorang yang berperangai dan sukses pula, padahal untuk beberapa hal bisa dibilang mereka adalah orang yang paling sulit menggapai apa yang harus digapai. Kembali tuhan menunjukan bahwa mimpi itu maha asik bagi umatnya yang mau berfikir.

Lantas sebagaimana kita tahu bahwasanya bermimpi itu mudah nan gratis, namun untuk mewujudkanya apakah sama dengan sistem kerja kita bermimpi ?, atau malah sebaliknya kita terbangun dalam mimpi yang sama dan masalah yang sama pula. Mengapa demikian, karena persoalan mimpi bukan soal rencananya, tetapi soal terwujudnya mimpi demi mimpi. Hal ini yang membedakan antara pemimpi dan pewujud mimpi. Secara komperhensif mimpi mampu berkorelasi dengan kenyataan ketika usaha menggalakan wujud dari abstrak menjadi realita yang telah tergapai. Jika kita melihat lagi film-film yang bertemakan motivasi, mimpi diwujudkan dari hasil usaha para aktornya ditengah rintangan yang harus dihadapi. Naruto merupakan contoh kecil dari sekian banyak film yang menegaskan tak ada kata menyerah dalam mimpi, bahkan ketika nyawa harus digantungkan maka gantungkan-lah sampai akhirnya mereka mewujudkan apa yang telah dielu-elukan.  Tapi ingatkah juga kalian pada Madara Uchiha yang mimpinya hanya sebatas mimpi dan malah menjadi penghambat terwujudnya mimpi orang sekitarnya. Itu-lah yang saya sebut sebagai pemimpi belaka, mereka tak sadar mereka masih di dunia khayalannya, mereka belum merasakan sakitnya jatuh dari langit, dan mereka tak tahu bahwa mereka hanya seorang pecundang yang terlalu sibuk memikirkan mimpinya tanpa sebuah usaha.

Minggu, 22 Juli 2018

Catatan Asyari Usman: Islam Nusantara Perlu Nabi Nusantara


Redaksi – Sabtu, 29 Syawwal 1439 H / 14 Juli 2018 09:30 WIB

Eramuslim.com – Saya sarankan kepada para penggagas dan pendukung konsep Islam Nusantara (Lamtara) supaya tidak serba tanggung kalau mau membuat “agama baru”. Jangan sebatas anti-Arab, anti-janggut, anti-jubah, anti-sorban, anti-istilah (bahasa) Arab, dlsb. Buatlah Islam Nusantara yang “kaffah”. Yang sempurna. Sama sekali tidak ada unsur Arab-nya.Harus betul-betul lepas dari kearaban. Barulah bisa disebut Islam Nusantara atau Lamtara. Termasuk jangan pakai Nabi Muhammad SAW. Sebab, Baginda yang dielu-elukan oleh kaum muslimin ini dan juga dimuliakan oleh Allah SWT itu, adalah orang Arab. Beliau berbahasa Arab. Berjubah dan bersorban. Jadi, kalau mau menciptakan “agama baru”, jangan tanggung-tanggung. Anda perlu sosok “nabi” sendiri, kitab sendiri, tata cara ibadah sendiri, semua sendiri. Supaya asli betul sebagai Islam Nusantara. Jangan ikut Nabi Muhammad lagi karena begitu disebut “Nabi Muhammad”, pasti orang akan ingat dengan “Islam” saja. Nabi Muhammad tidak diutus untuk menyampaikan konsep “Islam Nusantara”. Mengapa? Karena sejak awal kenabian beliau, Muhammad hanya menggunakan kata “islam” untuk sebutan agama yang diridhoi Allah. Sekali lagi, Baginda diutus untuk “Islam” bukan untuk “Islam Nusantara”.

Dengan demikian, mutlak Anda perlu memunculkan Nabi Nusantara. Dan Anda perlu cepat mendeklarasikan Nabi Nusantara agar bisa segera disosialisasikan. Kemudian sang Nabi Nusantara itu haruslah mampu membuat “kitab suci Lamtara”. Sebab, kalau masih menggunakan al-Quran sebagai pedoman, maka menjadi batallah kenusantaraan Islam Nusantara yang Anda inginkan. Kalau para pengikut Lamtara masih bernabikan Muhammad SAW, sangatlah aneh. Berarti nanti “terpaksa” mengikuti arahan orang Arab. Bukankah Nabi Muhammad ada meninggalkan hadits? Nah, hadits-hadits dari Baginda itu diriwayatkan oleh orang-orang Arab. Dalam bahasa Arab. Kemudian, buku-buku tentang hadits banyak pula ditulis oleh orang Arab. Kitab-kitab karangan para ulama besar, semua dalam bahasa Arab. Begitu juga kitab suci Islam, al-Quran, juga tak cocok untuk kenusantaraan Islam Nusantara. Kenapa? Karena, menurut konsep Lamtara, semua yang berbau Arab harus ditiadakan. Jadi, tidak pas kalau masih memakai al-Quran. Meskipun hanya terjemahannya saja. Sebab, terjemahan itu ‘kan secara akademis akan mencantumkan sumbernya, yaitu al-Quran. Jadi, akan mengurangi keaslian Islam Nusantara.

Terus, para penggagas harus mulai memikirkan sebutan “Islam” yang dipasangkan dengan “Nusantara”. Kata “islam” itu pun harus dicarikan bahasa asli Nusantaranya. Ada yang menyebutnya “selamat,” “slamat”, “selamet” atau “slamet”. Kata-kata ini pun masih berbau Arab. Seratus persen merupakan derivasi kata “islam”. Jadi, kata-kata di atas tidak nusantaranistis. Kalau Islam Nusantara disebut “Selamat Nusantara”, masih belum murni betul kenusantaraannya karena kata “selamat” itu berasal dari kata “islam”. Baik. Sementara Anda memikirkan ganti kata “islam” di dalam sebutan Islam Nusantara, kita lanjutkan ke pembahasan aspek lain. Saya lihat sosialisasi Lamtara antara lain dilakukan dengan mempopulerkan Senam Islam Nusantara (SIN). Percayalah, cara ini tidak akan efektif. Sulit Anda menjualnya. Sebab, gerakan senam sudah terlalu banyak macamnya. Para pengikut senam, biasanya, akan cepat bosan. Lihat saja senam yoga, senam taichi, senam pocho-pocho, dlsb. Sebentar saja lenyap. Sayang sekali kalau penyebaran konsep Lamtara mengandalkan gerakan senam. Keluar banyak biaya, hasilnya tidak ada.Sekarang kita bicarakan soal rumah ibadah. Allah dan Rasul-Nya menyebut rumah ibadah Islam yang diturunkan kepada Rasulullah Muhamamd SAW sebagai “masjid”. Ini juga harus diganti. Harus dicarikan kata asli Nusantara untuk “masjid”. Misalnya saja ada kata asli Nusantara untuk menggambarkan ruangan luas, yaitu “pendopo” atau “pandopo”. Ada lagi yang asli yaitu “jambo”, yang berarti ruangan lapang yang beratap. Sayangnya kata “jambo” tidak terdaftar di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Terus, yang juga sangat penting adalah memboikot Makkah dan Madinah. Para penggagas dan pengikut Lamtara harus mulai memikirkan agar Anda tidak usah lagi pergi ke Makkah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji. Sebab, kalau masih pergi ke sana, mau tak mau Anda akan menggunakan bahasa Arab, melihat tulisan Arab, jumpa orang Arab, jumpa sorban, jumpa janggut, jumpa unta, dlsb. Pusing Anda nanti! Kemudian soal nama para pengikut Lamtara. Ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, menggganti nama-nama pengikut yang terlanjur memakai nama-nama Arab menjadi nama-nama asli Nusantara. Kedua, berhenti menggunakan nama-nama Arab seperti Muhammad Hanif, Abdul Kadir, Yahya, Said Aqil, Umar, Usman, Musthofa, Kamal atau Kamil, Faisal Assegaf, dlsb. Tentu banyak nama-nama asli Nusantara yang bisa dipakai. Ada “Jaka” atau “Joko”, ada “Ken Arok”, “Ken Dedes”, ada “Gautama”, ada “Gajahmada”, dll. Tapi, banyak juga yang tak perlu diganti. Contohnya, Ade Armando, Denny Siregar, dsb. Ok. Sekarang, siapa yang mau menjadi Nabi Nusantara? Mungkin sudah bisa dimulai proses rekrutmennya. Saran saya, buat saja syarat-syarat untuk menjadi Nabi Nusantara itu antara lain menguasai bahasa pra-Islam, bahasa Sanskerta, dan bahasa-bahasa Timur. Kok syaratnya begitu? Karena kemungkinan besar kitab suci Lamtara harus menghindarkan bahasa Arab seratus persen. Sama sekali tak boleh ada kata-kata Arab. Harus asli digali dari bahasa-bahasa Nusantara. Nah, dulu, orang Nusantara itu konon menggunakan bahasa asli (saya tak tahu apa namanya) sebelum Islam Muhammad SAW masuk ke negeri ini. Dulu, penduduk asli Nusantara menyembah pohon, busut, batu, dsb. Mereka menganut animisme. Jadi, perlu digali bahasa yang mereka gunakan waktu itu. Harus kerja keras, tentunya. Tapi, demi Lamtara, bolehlah berkorban. Supaya Islam Nabi Muhammad SAW bisa Anda reduksi menjadi Islam yang umatnya berblangkon, sembahyang pakai celana pendek dengan bahasa kuno atau Sanskerta. Atau, setidaknya sembahyang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa standar Islam Nusantara. 

[swamedium]

*Penulis: Asyari Usman, wartawan senior

Sabtu, 07 Juli 2018

“Nakal Boleh, Goblok Jangan” ; Ungkapan Di Era Milenia


Sungguh dengan berjalanya sang waktu, maka banyak hal yang berubah. Mulai dari kebutuhan primer hingga yang sekunder menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Maka disetiap perubahan pastilah ada watak yang menyimpang dari harapan masyarakat, tak sesuai dengan kaidah yang seharusnya, atau bahkan merusak tatanan sosial yang menjadi pedoman semua orang. Ragam konsekuensi dari sebuah perubahan memang harus disikapi dengan bijak, kita tidak bisa menutup diri seperti orang-orang konvensional. Karena sudah menjadi qodrat illahi bahwasanya manusia adalah mahluk yang terus bergenerasi dan memerlukan perkembangan. Hal ini didasari oleh kebutuhan untuk  pemenuhan hidup, lalu mempermudah penggunaan kebutuhan sehari-hari. Sebagai contoh, saat uang emas sulit untuk dimodifikasi, maka seorang Yahudi mengganti sistem menjadi lebaran kertas supaya aksesbillitas perekonomian mudah untuk diamankan dan diubah kembali. Tak ayal, masyarakat berbondong-bondong menukarkan kepingan emas dengan lembaran kertas sebagai pengganti nilai tukar tanpa berfikir panjang, adapun terjadi ragam pergolakan solusi tetap menjalakan ketetapan perubahan harus dilaksanakan karena pemenang memenangkan game-nya. 

Walaupun sudah berubah, kesempatan seseorang untuk melakukan penyimpangan diri karena perubahan tersebut sangatlah terbuka lebar. Mengapa demikian ?, karena sistem perubahan boleh jadi tidak terbentuk dengan obat penawarnya. Seperti halnya media sosia, di samping kebutuhannya yang bermanfaat bagi masyarakat luas, namun untuk beberapa sesi keadaannya seakan menjadi ajang penyimpangan terbesar bagi ummat manusia hari ini. Sebabnya tak lain adalah kemudahan aksesbillitas pengguna, kecepatan fasilitas yang diberdayakan, lalu terjangkaunya situasi untuk berbuat hal-hal berbau negatif.

 Membentuk iklim yang harus diwajarkan oleh masyarakat, karena ketidaktahuan atau pemobodohan. Dasar pemikirannya bisa kita tarik dari kegamangan saat menghadapi situasi sulit untuk berkomunikasi secara langsung dijarak yang jauh, lalu terbantu dengan sebuah media canggih, ketidaksiapan menggunakan media tersebut secara mental, kesempatan membenturkan dengan konten yang nyeleneh membuat keadaan ini adalah sebuah inovasi, dan yang terakhir adalah ketidakmampuan tiap individu menampung ragamnya konten yang masuk ke dalam otak.  Akibatnya adalah penyisipan video atau gambar yang membuat semua orang merasa ini adalah bentuk “refreshing” dikala penat bukan lagi berbicara soal tidak tahu, tetapi soal kebodahan masal menganggap kasus itu adalah budaya baru. 

Mungkin terbesitnya ucapan “lo nakal boleh, tapi goblok jangan” adalah representatif dari buah-buah pembodohan sekelompok pihak agar kita tergelimang dalam jiwa dan ahlak yang terpisah dikala sedang hancurnya pendidikan karakter yang direkontruksi. Sehingga muncul generasi asa adalah lara yang tak kunjung mendamba , dan memang kita tak bisa bandingkan perubahan seperti ini dengan analogi ( contoh ) yang diungkapkan oleh penulis di paragraf pertama. Hanya dalam skema tak terberdalil jelas disini ada hegemoni dan ragam bentuk gejala sosial yang sudah tertebak apa visi dan misi mereka, kemudian tak segan cara ini membentuk kita ( termasuk penulis ) terjebak dalam lingkaran pemikiran yang terkotak-kotak antara haq dan bathil. Olehnya perlu diakui dalam permainan ini sebuah ungkapan yang seperti telah disampaikan adalah implementasi dari setiap langkah yang beresiko kepada diri kita agar berhati-hati menjadi manusia “maya”, tidak halnya dengan topik yang dibicarakan pekan-pekan sekarang, untuk kedepanpun tetap beresiko bilamana anda atau penulis menanggapi fenomena sama seperti cara fikir mainstrem. Wallahu a’lam bish-shawabi

Oleh : Rizal Ahmad